News & Events
FFTI Dukung World Silent Day

Tanggal 21 Maret diusulkan menjadi World Silent Day (WSD). Gerakan ini diusulkan oleh sebuah komunitas yang terdiri dari Lembaga Swadaya Masyarakat peduli lingkungan, penggiat media, budayawan, rohaniawan, komunitas seni, desainer, dan volunteer dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Adalah Fransiska, mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Pertanian, Univ.Udayana yang dalam 2 tahun ini aktif mengkoordinasikan komunitas yang tergabung dalam WSD ini untuk mengkampanyekan 21 Maret sebagai World Silent Day atau Hari Hening Sedunia atau Nyepi di Era global.

Konsep WSD diadopsi dari kearifan lokal Bali, yaitu Nyepi yang diperingati setiap tahun sebagai Tahun Baru Caka oleh umat Hindu. Pada hari itu, Bali menyepi 24 jam, ditandai dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian (tidak menyalakan api, tidak bepergian, tidak bekerja, dan tidak melakukan pesta/hiburan).
World Silent Day (WSD) merupakan gerakan moral untuk memberikan ruang bagi bumi untuk bernapas dengan mengajak masyarakat dunia melakukan hening. Tiap orang pada hari tersebut diminta berkontribusi mengurangi konsumsi energi dan sumberdaya alam. Gerakan WSD sudah dikampanyekan mulai Desember 2007, saat Bali menjadi tuan rumah konferensi PBB untuk Perubahan Iklim. Penyebarluasan informasi mengenai WSD ke masyarakat lebih luas merupakan tantangan yang paling besar bagi gerakan ini. Maka penting halnya untuk terus menerus menyebarluaskan informasi mengenai WSD kepada masyarakat luas agar semakin banyak masyarakat yang ikut berpartisipasi aktif dalam gerakan ini.

FFTI menganggap gerakan ini penting dan berdampak positif bagi lingkungan. Untuk itulah, FFTI ikut serta secara aktif untuk mendukung kampanye ini. Adapun rangkaian kegiatan kampanye yang diikuti bersama tim WSD adalah :
1) Rapat koordinasi tim WSD di Sekretariat FFTI pada tanggal 8 Maret 2011. Rapat ini diikuti oleh penggiat dan sukarelawan WSD.
2) Fair Trade Lunch bersama Fransiska, koordinator kampanye WSD, pada tanggal 15 Maret 2011.
Ini adalah Fair Trade Lunch ketiga yang diadakan FFTI. Pada dua Fair Trade Lunch sebelumnya, FFTI juga mengundang narasumber dari teman-teman NGO dan tokoh petani. Diharapkan diskusi dalam Fair Trade Lunch ini mampu memberikan inspirasi bagi undangan yang hadir baik secara individu maupun secara organisasi.
Undangan Fair Trade Lunch yang hadir kali ini adalah dari : JOGER, Komunitas Seni (personil band NOSSTRESS, Dialog Dini Hari), komunitas Taman 65, Komunitas NK 13, OSIS SMUN 6 Denpasar, LSM (Yayasan Gelombang Udara Segar, Yayasan Manikaya Kauci, PPLH Bali, Yayasan Bali Organic Association, Mitra Bali Fair Trade, Yayasan Kalimajari, Bali Sruti), CV. Peduli Bali, Kontributor Koran Renon.
Acara yang dimoderatori oleh Ngurah Termana ini, mendapat respon positif dari undangan yang hadir. Secara umum mereka mendukung gagasan WSD.

3) Audiensi dengan Bapak I.B Rai Rantra, Walikota Denpasar. Meskipun sempat tertunda dari jadwal semula, tim WSD akhirnya bisa melakukan audiensi dengan Bapak Walikota pada tanggal 15 Maret 2011. Secara umum, Bapak Walikota menerima dengan baik gerakan ini, dan memberikan dukungan lewat pernyataan dan dukungan tanda tangan. Read the article →


